Senin, 11 November 2019

Bawang Merah Dan Bawang Putih

Cerita Rakyat Bawang Merah Bawang Putih

Di sebuah desa, tinggallah seorang anak bernama Bawang Putih bersama dengan ayahnya. Ibu Bawang Putih sudah meninggal sehingga sang ayah memutuskan untuk menikah kembali. Sayangnya, ibu tiri dan saudara tirinya yang bernama Bawang Merah selalu bersikap buruk kepada Bawang Putih.
Kejahatanya semakin menjadi-jadi ketika sang ayah meninggal dunia. Bawang putih diperlakukan layaknya seorang asisten rumah tangga.
Pada suatu pagi, Bawang Putih sedang mencuci baju di sungai. Dikarenakan aliran airnya terlalu deras, salah satu baju ibu tirinya pun hanyut.
Mengetahui hal tersebut, ibu tiri langsung memarahinya dan meminta Bawang Putih untuk menemukannya. Dengan berat hati, ia pun menulusuri sungai untuk menemukan baju ibunya. Ternyata baju tersebut ditemukan oleh seorang nenek.
Nenek tersebut akan memberikannya, tapi dengan syarat Bawang Putih harus menemaninya selama satu minggu. Dengan senang hati, Bawang Putih menemani nenek tersebut. Setiap hari ia membantunya merapikan dan merawat rumah.
Setelah satu minggu berlalu, nenek itu mengembalikan baju ibunya dan menawarkan hadiah kepada Bawang Putih atas bantuannya merawat rumah. Hadiah tersebut berupa labu siam besar dan kecil. Bawang putih memilih yang kecil karena tidak ingin menyusahkan si nenek.
Setelah kembali ke rumah dan mebuka labu tersebut, ternyata isinya adalah emas-emasan. Mengetahui hal itu, Bawang Merah memutuskan untuk kerumah nenek tersebut dan meminta labu siam yang besar secara paksa.
Ia berharap jika labunya lebih besar, maka isi perhiasannya pun semakin banyak. Namun, setelah labu tersebut dibuka yang muncul justru binatang buas.
Kisah Bawang Putih dan Bawang Merah yang merupakan salah satu dari kumpulan cerita rakyat nusantara ini sangat cocok diceritakan pada anak Anda. Pasalnya, kisah ini memiliki pesan moral yang mengajarkan pada anak untuk selalu bersikap baik.
Perbuatan yang jahat akan mendapatkan balasan yang setimpal. Seperti halnya kelakuan Bawang Merah dan Ibu Tiri yang jahat kepada Bawang Putih. Pada akhirnya, mereka mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatannya.

Legenda Timun Mas.

Di Jawa Tengah, hiduplah sepasang suami istri yang hidup sederhana tapi bahagia. Hanya saja, mereka belum dikaruniai seorang anak. Setiap malam mereka berdoa memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberikan momongan.
Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk datang ke gua menemui raksasa. Konon, raksasa tersebut bisa memberikan keturunan untuk pasangan suami tersebut.
Benar saja, selang beberapa saat setelah memohon, mereka diberikan sebuah biji-bijian mentimun, yang nantinya akan tumbuh seorang anak didalamnya. Tetapi raksasa memberikan satu syarat, jika nanti anak tersebut sudah berumur 17 tahun, raksasa akan mengambilnya untuk dijadikan makanan.
Pasangan suami istri tersebut merawat pohon mentimun dengan kasih sayang. Beberapa saat kemudian tumbuhlah buah timun berwarna keemasan. Setelah dibuka, terdapat bayi cantik didalamnya dan mereka menamainya Timun Mas.

Tahun demi tahun berlalu, Timun Mas tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan menawan. Ibu dari Timun Mas pun mulai khawatir, karena sebentar lagi anak kesayangannya akan berusia 17 tahun dan pastinya raksasa jahat akan mengambilnya.
Untuk itu, ia berpesan pada Timun Mas untuk lari dari raksasa tersebut dan memberinya sebuah benda ajaib dalam kantong. Benda tersebut adalah garam, cabai, dan biji-bijian mentimun.
Pada saat raksasa mengejarnya, Timun Mas melemparkan benda ajaib tersebut secara bergantian kepadanya . Hingga akhirnya, ia berhasil membunuh raksasa tersebut. Ia pun kembali ke pelukan ibu dan ayahnya.
Pastinya Bunda sudah sering mendengar kisah Timun Mas yang termasuk dalam kumpulan cerita rakyat nusantara di atas, ya? Kisah ini sangat menarik untuk diceritakan pada si kecil, bukan?
Hal tersebut dikarenakan Timun Mas memiliki beberapa pesan moral. Salah satu pesan moralnya adalah selalu meminta pertolongan kepada Tuhan. Janganlah meminta pertolongan kepada selain Tuhan, jikalau tidak ingin hidup dalam bahaya.